Pengembangan dan Pemberdayaan Majelis Taklim

Keberadaan Majelis Taklim khususnya dalam era globalisasi sangat penting, terutama dalam upaya menangkal dampak negatif dari globalisasi itu sendiri. Tetapi, untuk menjaga eksistensi Majelis Taklim itu sendiri, maka ia harus mampu memanfaatkan dampak positif globalisasi.

Keberadaan Majelis Taklim menjadi sangat penting karena ia berada di tengah-tengah masyarakat, dan masyarakat adalah salah satu dari tiga lingkungan pendidikan. Menurut akar katanya, istilah majelis taklim terssusun dari gabungan dua kata : majlis yang berarti(tempat) dan taklim yang berarti (pengajaran) yang berarti tempat pengajaran atau pengajian bagiorang-orang yang ingin mendalami ajaran-ajaran islam sebagai sarana dakwah dan pengajaranagama.Majelis taklim adalah salah satu lembaga pendidikan diniyah non formal yang bertujuanmeningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT dan akhlak mulia bagi jamaahnya, sertamewujudkan rahmat bagi alam semesta.Dalam prakteknya, majelis taklim merupakan tempat pangajaran atau pendidikan agama islam yangpaling fleksibal dan tidak terikat oleh waktu. Majelis taklim bersifat terbuka terhadap segla usia,lapisan atau strata social, dan jenis kelamin. Waktu penyelenggaraannya pun tidak terikat, bisa pagi,siang, sore, atau malam . tempat pengajarannya pun bisa dilakukan dirumah, masjid, mushalla,gedung. Aula, halaman, dan sebagainya.

Selain itu majelis taklim memiliki dua fungsi sekaligus, yaitu sebagai lembaga dakwah dan lembaga pendidikan non-formal. Fleksibelitas majelis taklim inilahyang menjadi kekuatan sehingga mampu bertahan dan merupakan lembaga pendidikan islam yangpaling dekat dengan umat (masyarakat). Majelis taklim juga merupakan wahana interaksi dan komunikasi yang kuat antara masyarakat awam dengan para mualim, dan antara sesama anggota jamaah majelis taklim tanpa dibatasi oleh tempat dan waktu.Dengan demikian majelis taklim menjadi lembaga pendidikan keagamaan alternative bagi merekayang tidak memiliki icukup tenaga, waktu, dan kesempatan menimba ilmu agama dijulur pandidikanformal. Inilah yang menjadikan majlis taklim memiliki nilai karkteristik tersendiri dibanding lembaga-lembaga keagamaan lainnya.

Majelis taklim merupakan lembaga pendidikan diniyah non-formal yang keberadaannya di akui dandiatur dalam :1. Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional.2. Peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tantang standar nasional pendidikan.3. Peraturan pemerintah nomor 55 tahun 2007 tentang pendidikan agama danpendidikan keagamaan.4. Keputusan MA nomor 3 tahun 2006 tentang strutur departement agama tahun 2006.

Kedudukan Majelis Taklim sebagai lembaga pendidikan non-formal mempunyai fungsi sebagai berikut:

  1. Membina dan mengembangkan agama Islam dalam rangka membentuk masyarakat yang takwa kepada Allah swt.;
  2. Sebagai ajang silaturrahmi yang dapat menghidupkan dakwah dan ukhuwah Islamiah;
  3. Sebagai sarana dialog berkesinambungan antara ulama, umara’, dan umat;
  4. Sebagai media mempunyai gagasan modernisasi yang bermanfaat bagi pembangunan umat.

Berdasarkan fungsi-fungsi tersebut di atas, maka Majelis Taklim yang berada di tengah-tengah masyarakat harus difungsikan eksistensinya, sehingga dapat membentengi masyarakat/umat dari pengaruh-pengaruh negatif utamanya generasi muda dan remaja yang masih sangat mudah dipengaruhi oleh berbagai hal. Dari sinilah keberadaan Majelis Taklim sebagai lembaga pendidikan non-formal yang sangat penting, di samping pendidikan formal.

Bila fungsi-fungsi Majelis Taklim di atas berjalan sebagaimana mestinya, maka akan mengalami suatu kehidupan yang penuh kedamaian.

Bila dilihat dari strategi pembinaan umat, maka dapat dikatakan bahwa Majelis Taklim merupakan wadah atau wahana dakwah Islamiah yang murni institusional keagamaan. Sebagai institusi keagamaan Islam, sistem Majelis Taklim adalah melekat pada agama Islam itu sendiri.

Majelis taklim mempunyai kedudukan dan ketentuan tersendiri dalam mengatur pelaksanaan pendidikan atau dakwah Islamiah, di samping lembaga-lembaga lainnya yang mempunyai tujuanyang sama. Sebagai lembaga pendidikan non-formal, dengan sifatnya yang tidak terlalu mengikat dengan aturan yang ketat, merupakan pendidikan yang efektif dan efisien, cepat menghasilkan dan sangat baik untuk mengembangkan tenaga kerja atau potensi umat, karena ia digemari masyarakat luas. Efektivitas dan efisiensi sistem pendidikan ini sudah banyak dibuktikan melebihi media pengajian-pengajian/ Majelis Taklim yang sekarang banyak tumbuh dan berkembang, baik di desa-desa maupun di kota-kota besar.

Oleh karena itu, secara strategis Majelis Taklim adalah menjadi sarana dakwah yang berperan sentral pada pembinaan dan peningkatan kualitas hidup umat Islam sesuai tuntutan ajaran agama. Di samping itu, yang lainnya ialah untuk menyadarkan umat Islam dalam rangka menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya yang kontekstual kepada lingkungan hidup, sosial budaya dan alam sekitar mereka, sehingga dapat menjadikan umat Islam sebagai ummatan wasathan yang meneladani kelompok umat lain.

Peranan Majelis Taklim, tidak lepas dari kedudukannya sebagai alat sekaligus media pembinaan kesadaran beragama. Usaha pembinaan masyarakat dalam bidang agama mempunyai pendekatan, dan salah satu pendekatan yang digunakan ialah jalur pendidikan.

Pendekatan pembinaan mental melalui jalur pendidikan inilah yang banyak dipergunakan sepertinya: madrasah, Majelis Taklim, pengajian dan Majelis Taklim. Dalam konteks ini, Majelis Taklim atau jamaah pengajian dipandang efektif, karena ia dapat mengumpulkan banyak orang dalam satu waktu. Karena itu, sangatlah jelas betapa pentingnya kedudukan dan peranan Majelis Taklim dalam pendidikan agama dan dakwah Islam.

Jadi, peranan secara fungsional Majelis Taklim adalah mengokohkan landasan hidup manusia di bidang mental spritual dalam rangka meningkatkan kualitas hidup secara integral, lahiriah dan batiniah sesuai tuntunan ajaran Islam.

Karena itu, Majelis Taklim sebagai lembaga pendidikan non-formal membutuhkan perhatian dan kesadaran umat, anggota masyarakat untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas, sehingga eksistensi Majelis Taklim dapat menjalankan fungsinya dan berpengaruh dalam membangun manusia yang berkualitas.

Dakwah adalah kewajiban setiap umat Islam, untuk saling mengingatkan dan mengajak sesamanya dalam rangka menegakkan kebenaran (pemberdayaan Masyarakat marjinal) dan kesabaran (konteks amal/sosiologis), (Q.S. 103: 3). Inilah kenapa umat Islam selanjutnya disebut sebagai pewaris para nabi, waratsatul anbiya’. Nabi yang berasal dari kata naba-a tiada lain bermakna penebar risalah Tuhan (baca: kebenaran).

Tujuan dakwah bukanlah untuk memaksakan kehendak (Q.S. 2: 256), mengislamkan yang lain maupun untuk mempersatukan umat manusia (Q.S. 5: 48), apalagi untuk memperbanyak pengikut. Jika dakwah berarti demikian, niscaya Nabi Nuh as yang diberi usia 950 tahun dalam menggencarkan risalah dakwahnya tidak layak diberi penghargaan. Sebab, dalam kurun yang sangat panjang itu beliau hanya mampu mengajak manusia seisi penumpang sebuah kapal laut. Kenyataannya beliau tetap dianggap orang istimewa oleh Allah SWT (Q.S. 29: 14/71: 5-28).

Islam atau tidaknya seseorang bukanlah kepentingan Allah SWT. Konsekuensi dakwah bisa diterima atau ditolak. Urusan beriman atau tidak, itu urusan Allah. Kita tidak dibebani-Nya untuk memaksa apalagi mengimankan seluruh manusia. Tugas kita hanyalah menyampaikan (tabligh; Q.S. 10: 99/28: 56/3: 20) dan menjadi bukti kedamaian bagi yang lain (syuhada; Q.S. 3: 110).

Melalui Islam, Allah hanya memesankan kehidupan yang damai, tenteram, dan penuh kemaslahatan. Hal ini sesuai korelatifitas makna harfiah antara Islam dan rahmat yang berarti damai dan sejahtera. Dalam realitas yang ragam, pelekatan simbolik Alquran dengan menyebut ajaran Islam sebagai “rahmatan lil ‘alamin”, menyaratkan Islam —melalui pengikutnya—justru mampu menunjukkan bukti mpiric dalam menerima tegaknya nilai-nilai perdamaian, kesejahteraan, dan ketentraman bagi seluruh makhluk yang ada di jagat raya ini (Al-Maraghi, VI: 77).

Dakwah Islam mesti disampaikan dengan cara yang bijaksana (hikmah), komunikatif (maw’idhah hasanah), dan dialogis (jadal). Menurut Yusuf Qardlawi (2002), hikmah berarti rasional sesuai tuntutan akal dan bukti empiris; maw’idlah bermakna penuh pertimbangan etika dan kesantunan; serta jadal menunjuk pentingnya dialog antariman dengan cara-cara yang baik, terpuji, dan elegan tanpa dibarengi prasangka, permusuhan, maupun kedengkian.

Pemahaman sistem yang bersifat tradisional adalah lawan dari sistem yang modern. Sistem tradisional adalah berangkat dari pola pengajaran yang sangat sederhana sejak semula timbulnya, yakni pola pengajaran sorogan, bandongan dan wetonan dalam mengkaji kitab-kitab agama yang ditulis oleh para ulama zaman abad pertengahan dan kitab-kitab itu dikenal dengan istilah “kitab kuning”.a.        

a. Sorogan

Sistem pengajaran dengan pola sorogan dilaksanakan dengan jalan santri yang biasanya pandai menyorongkan sebuah kitab kepada kiai untuk dibaca dihadapan kiai itu. Dan kalau ada salahnya kesalahan itu langsung dihadapi oleh kiai itu. Di Majelis Taklim besar “sorogan” dilakukan oleh dua atau tiga orang santri saja, yang biasa terdiri dari keluarga kiai atau santri-santrinya yang diharapkan kemudian hari menjadi orang alim.

b. Wetonan

Sistem pengajaran dengan jalan wetonan dilaksanakan dengan jalan kiai membaca suatu kitab dalam waktu tertentu dan santri dengan membawa kitab yang sama mendengarkan dan menyimak bacaan kiai. Dalam sistem pengajaran yang semacam itu tidak dikenal absensinya. Santri boleh datang boleh tidak, juga tidak ada ujian.

c. Bandongan

Sistem pengajaran yang serangkaian dengan sistem sorogan dan wetonan adalah bandongan yang dilakukan saling kait-mengkait dengan yang sebelumnya. “Sistem bandongan, seorang santri tidak harus menunjukan bahwa ia mengerti pelajaran yang sedang dihadapi. Para kiai biasanya membaca dan menterjemahkan kata-kata yang mudah”.

Ketiga pola pengajaran ini berlangsung semata-mata tergantung kepada kiai sebab segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu, tempat dan materi pengajaran (kurikulum)nya terletak pada kiai atau ustadzlah yang menentukan keberhasilan proses belajar-mengajar di  Majelis Taklim, sebab otoritas kiai sangat dominan di dalam memimpin  itu.

Di dalam perkembangannya  Majelis Taklim tidaklah semata-mata tumbuh atas pola lama yang bersifat tradisional dengan ketiga pola pengajaran diatas, melainkan dilakukan suatu inovasi dalam pengembangan suatu sistem. Disamping pola tradisional yang termasuk ciri – salafiah, maka gerakan khalafiyah telah memasuki derap per-kembangan  Majelis Taklim. Ada dua sistem yang diterapkan :

1. Sistem Klasikal

Pola penerapan sistem klasikal ini adalah dengan pendirian sekolah-sekolah baik kelompok yang mengelola pengajaran agama maupun ilmu yang dimasukan dalam kategori umum dalam arti termasuk di dalam disiplin ilmu-ilmu kauni (“ijtihadi” – hasil perolehan manusia) yang berbeda dengan agama yang sifatnya “tauqifi” (dalam arti kata langsung ditetapkan bentuk dan wujud ajarannya).

Kedua disiplin ilmu itu di dalam sistem persekolahan diajarkan berdasarkan kurikulum yang telah baku dari Departemen Agama dan Departemen Pendidikan. Bentuk-bentuk lembaga yang dikembangkan di dalam  Majelis Taklim terdiri dari dua Departemen yang lebih banyak mengelola bidang Pendidikan dan Kebudayaan dan Departemen Agama.

2. Sistem Kursus-kursus

Pola pengajaran yang ditempuh melalui kursus (“takhossus”) ini ditekankan pada pengembangan ke-terampilan berbahasa Inggris, di samping itu diadakan keterampilan tangan yang menjurus kepada terbinanya kemampuan psikomotorik seperti kursus menjahit, mengetik komputer dan sablon.

Pengajaran sistem kursus ini mengarah kepada ter-bentuknya santri yang memiliki kemampuan praktis guna terbentuknya santri-santri yang mandiri menopang ilmu-ilmu agama yang mereka tuntut dari kiai melalui pengajian sorogan, wetonan. Sebab pada umumnya santri di harapkan tidak tergantung kepada pekerjaan di masa mendatang, melainkan harus mampu menciptakan pe-kerjaan sesuai dengan kemampuan mereka.

Meski telah melampaui beberapa fase perubahan zaman, eksistensi Majelis Taklim cukup kuat dan masih memelihara pola dan tradisi lama. Bedanya adalah kalau dulu Majelis Taklim hanya sebatas tempat pengajian yang dikelola oleh seorang Kyai yang merangkap sebagai seorang pengajar. Lalu perkembangan Majelis Taklim telah menjelma menjadi lembaga atau institusi yang menyelenggarakan pengajaran atau pengajian agama Islam dan dikelola dengan cukup baik, baik secara individu, kelompok perorangan, bahkan lembaga (organisasi).

Dalam prakteknya, Majelis Taklim merupakan tempat pengajaran atau pendidikan agama Islam yang paling fleksibel dan tidak terikat waktu. Majelis Taklim bersifat terbuka terhadap segala usia, lapisan atau strata sosial dan jenis kelamin. Waktu penyelenggaraannya pun tidak terikat, bisa pagi, siang ataupun malam hari. Tempat pengajarannya pun bisa dilakukan dirumah, masjid, musholla, gedung, aula, halaman (lapangan) dan sebagainya.

Selain itu, Majelis Taklim memiliki dua fungsi sekaligus, yaitu sebagai lembaga dakwah dan lembaga pendidikan non-formal. Fleksibilitas Majelis Taklim inilah yang menjadi kekuatan sehingga mampu bertahan dan merupakan lembaga pendidikan Islam yang paling dekat dengan umat (masyarakat). Majelis Taklim juga merupakan wahana interaksi dan komunikasi yang kuat antara masyarakat awam dengan para mualim, dan antara sesama anggota jama’ah Majelis Taklim tanpa dibatasi oleh tempat dan waktu.

 

 1)  Bina Institusi

Sebagai organisasi, Majelis Taklim dimaknai sebagai wadah dan proses besama-sama di antara para jama’ahnya untuk mencapai tujuan bersama sebagai wadah organisasi, Majelis Taklim harus diletakkan sebagai wadah yang rasional. Artinya, pembentukan dan penyelenggaraan organisasi dilaksanakan bedasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional dengan karakter sebagai berikut:

a. Efektifitas

Efektifitas Majelis Taklim dapat tercapai apabila dapat menjalankan tugas secara konsisten dengan mengerahkan segala kemampuan demi mencapai tujuan Majelis Taklim.

b. Efisiensi

Majelis Taklim harus mengupayakan efisiensi dalam menggunakan sumber daya dan sumber dana, karena minimnya sumber yang dimiliki oleh Majelis Taklim.

c. Produktifitas

Upaya efisiensi yang dilakukan Majelis Taklim tidak semata bertujuan untuk menghemat sumber daya dan dana yang dimiliki, melainkan dengan tujuan untuk meningkatkan produktifitas.

d. Rasionalitas

Asumsi Rasionalitas dalam Majelis Taklim dimaknai sebagai tindakan yang bersifat rasional dan mendasarkan pada pertimbangan hasil.

e. Departemenentalisasi

Semakin maju sebuah Majelis Taklim, semakin pula membutuhkan pembidangan kerja dan peran untuk menjalankan fungsinya masing-masing sesuai dengan keahlian dan kemampuannya.

f.  Fungsionalisasi

Selain pembidangan peran, hal yang penting lainnya adalah menggerakkan seluruh komponen yang harus dapat berfungsi dengan baik.

g. Spesialisasi

Sebagai organisasi yang kompleks, pembinaan dan pengurusan Majelis Taklim harus berupaya merekrut orang-orang yang professional dibidangnya.

h.  Hirarki Wewenang

Perlu adanya keseimbangan antara tangung jawab dan wewenang.

i. Pembagian tugas

Pembagian tugas yang benar dilakukan agar komponen yang ada menjalankan tugasnya dengan baik dan tidak terjadi tumpang tindih tugas.

j. Dokumentasi dan arsip tertulis

Majelis Taklim harus mampu melakukan system dokumentasi dan pengarsipan dengan baik, sebagai pijakan untuk pengembangan di masa selanjutnya.

k. Tata cara dan hubungan kerja

Majelis Taklim perlu memiliki aturan, tata cara dan hubungan kerja untuk menjadi pedoman bagi semua komponen dalam organisasi maupun luar organisasi.

l. Koordinasi

Koordinasi yang baik memungkinkan semua elemen bekerja pada rill yang digariskan oleh organisasi.

 

2)     Bina Guru/Pengurus

Ustadz/Ustadzah (guru) sebagai faktor penting dalam Majelis Taklim. Oleh karena itu haruslah seseorang yang profesional dalam melaksanakan pekerjaan mengajar dan memenuhi standar kompetensi yang dibutuhkan, meliputi :

  1. Kompetensi Pribadi, yaitu kemampuan guru untuk  menjadi sosok yang dapat digugu dan ditiru;
  2. Kemampuan Profesional, yaitu kemampuan yang berkaitan dengan penyelesaian tugas-tugas keguruan;
  3. Kompetensi Sosial Kemasyarakatan, yaitu kemampuan untuk berkomunikasi dan menjalin interaksi dengan masyarakat.

 

Sebuah organisasi Majelis Taklim akan dapat berkembang  ketika pengurus dan jama’ah menjadi tim solid dan tangguh, dengan melakukan :

1)    Memotivasi Jama’ah ;

2)    Menjelaskan maksud dan tujuan Majelis Taklim ;

3)    Mengajak diskusi jama’ah ;

4)    Memberikan kesempatan untuk melakukan koreksi.

 

Empat prasyarat tim solid ini dapat diwujudkan melalui kerjasama yang baik antara pengurus dan jama’ah. Untuk pengurus, perlu dilakukan pembinaan dalam berbagai aspek :

a)   Pembinaan majerial;

b)  Pembinaan administrative dan kearsipan;

c)  Pembinaan transparansi, ukuntabilitas, dan tanggung jawab keuangan;

d)  Pembinaan jaringan.

 

3)   Bina Jama’ah/Murid

Jamaah Majelis Taklim tidak bisa dipandang sebagai objek yang menerima semua program dan kebijakan yang dibuat, ia harus diposisikan sebagai kelompok yang bepengaruh terhadap eksistensi Majelis Taklim. Karena apalah artinya Majelis Taklim apabila didalamnya tidak ada jamaahnya.

Upaya pembinaan terhadap jamaah agar melahirkan sikap-sikap sebagai berikut :

i)     Sikap saling memahami (tafahum), yaitu setiap antar jamaah mengerti kelebihan dan kelemahan masing-masing serta saling menutupi kelemahan tersebut.

ii)   Sikap semangat berkorban (taqddhiyyah), yaitu sikap semangat yang harus dipupuk untuk melahirkan generasi pekerja keras tanpa pamrih.

iii)  Sikap saling menasehati, yaitu perlu perbaikan ketika terjadi kesalahan dan perlu dukungan ketika ada yang baik.

iv)  Sikap damai (ishlah), yaitu harus ditanamkan sikap damai dan bersedia saling memaafkan ketika terjadi kesalahan.

 

4)    Bina Usaha

Untuk menjadikan Majelis Taklim eksis dan maju diperlukan kekuatan dana, yang digali baik dari internal maupun eksternal Majelis Taklim. Potensi dana dari internal Majelis Taklim didapat dari iuran anggota/jama’ah serta produktifitas pengurus, ustadzah maupun jama’ahnya. Adapun pendanaan dari eksternal Majelis Taklim didapat salah satunya dari donator.

Sebagai pihak luar, donator tidak memiliki keterkaitan internal dengan Majelis Taklim. Untuk mempertahankan agar mereka tetap bersedia memberikan dukungannya kepada Majelis Taklim tersebut, maka perlunya dibangun komunikasi yang efektif. Komunikasi ini merupakan bagian dari strategi hubungan masyarakat.

Hubungan antara Majelis Taklim dengan donator harus dibina dengan baik. Salah satu bentuk pembinaannya dapat dilakukan dengan cara :

  1. Membangun perhatian kepada donator dengan cara pemberian ucapan selamat kepada pihak donatur atas dukungan yang diberikan pada momen-momen tertentu;
  2. Membangun kepercayaan kepada pihak donator dengan cara memberikan laporan keuangan secara berkala;
  3. Membangun komunikasi yang efektif melalui pembuatan bultin atau sarana informasi lainnya.

 

5)    Bina Networking (jaringan)

Tujuan dari membangun jaringan ini supaya Majelis Taklim tidak terkungkung tetapi dapat terbuka dengan perkembangan dunia luar.

Untuk melakukan pembinaan terhadap jaringan ini, dapat dilakukan beberapa langkah :

a)    Kerjasama dengan lembaga lain dapat dilakukan secara informal dan formal;

b)    Majelis Taklim harus memiliki sesuatu yang diunggulkan yang dapat ditawarkan kepada pihak lain dan menjadi daya tarik bagi pihak lain;

c)     Majelis Taklim harus mampu mengembangkan kreasi dan inovasi agar tidak tertinggal dari perkembangan zaman;

d)     Kerjasama dibangun atas prinsip kejujuran, amanah, profesional dan mengedepankan pada hasil yang manfaat.

e)     Kerjasama menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan oleh kedua belah pihak dan dapat dinikmati oleh jama’ah.

 

1)    Dakwah dan Pendidikan

Dalam hal ini bukan pendidikan agama, tapi sebagai wadah lembaga pendidikan umum, yaitu meningkatkan kualitas pengetahuan jamaahnya seperti memberikan pendidikan kesehatan, kursus-kursus, tata boga, tat arias, disamping pengetahuan agama praktis seperti pengurusan jenazah dan lain-lain.

 

2)     Ekonomi dan Sosial

Dalam pengembangannya, Majelis Taklim bukan saja memberikan pendidikan agama (spiritual) tetapi juga pemberdayaan pada bidang ekonomi yaitu mencoba mengembangkan usaha mikro dan makro. Adapun macam usahanya seperti catering, biro perjalanan haji/wisata, sembako, dsb. Kemudian dapat pula membuat program simpan pinjam dengan menerapkan sistem koperasi, upaya ini didukung dengan memberikan pelatihan manajemen, pembukuan dan keuangan.

Majelis Taklim juga berupaya meningkatkan rasa sosial, perekat silaturahmi antara masyarakat, ulama, umaro. Menumbuhkan kepedulian antar sesama dengan mengadakan bakti sosial.

 

3)    Seni Budaya dan Olah Raga

Majelis Taklim bisa menjadi pengembangan dan wadah budaya islami atau budaya setempat serta penyebaran nilai-nilai moral yang berlaku dalam masyarakat. Penampung inspirasi, bakat seperti hadrow, marwis, qosidahan, tarik suara.

Untuk mencapai semua itu, dibutuhkan juga sebuah konsolidasi, baik secara intern Majelis Taklim maupun ekstern antar kelompok Majelis Taklim lainnya. Diantara hal yang bisa dilakukan dalam rangka konsolidasi Majelis, yaitu :

  1. Membangun Komunikais Persuasif, adalah komunikasi persuasive yang bersifat multi arah, baik komunikasi intern atau ekstern yang dilandasi kejujuran dan mengandung nilai-nilai Islami;
  2. Menjalin kerjasama/mitra kerja, yaitu kerjasama antara pihak luar Majelis Taklim atau Lembaga Kemasyarakatan yang bisa memberika skill atau pengetahuan umum lainnya untuk para jamaah, hal ini akan memberikan perubahan positif, program yang bervariatif yang bisa memberikan pengetahuan dan pengalaman baru.
  3. Membuat program/kegiatan, yaitu upaya membuat program/kegiatan dengan melibatkan kelompok Majelis Taklim lainnnya atau lembaga swadaya dalam menjalin kebersamaan dan perubahan Majelis Taklim.

 

4)    Kesehatan dan Lingkungan

Pada aspek Kesehatan dan Lingkungan, program kerja yang dilakukan mencakup :

  1. Workshop tentang Kesehatan & Lingkungan
  2. Melaksanakan Kegiatan Jum’at Bersih
  3. Pelayanan Kesehatan
  4. Mendirikan Klinik
  5. Menata dan menjaga Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan MT (Sanitasi)

Firda Widyasari, M.Si dan Arif Rahman (Pelaksana Seksi Bimas Islam KanKemenag Kota Jakarta Selatan)